PADANG – Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Media Online Nusantara (ASANTARA) menggelar Diskusi Publik Perdana pada Sabtu (11/7/2026) di Resto Suaso, Kota Padang, Sumatera Barat. Kegiatan ini menjadi tonggak awal perjalanan organisasi dalam memperkuat konsolidasi internal sekaligus membangun fondasi menuju organisasi media yang profesional, independen, berintegritas, kuat, dan berwibawa.
Diskusi menghadirkan Ketua Dewan Pembina DPN ASANTARA, H. Halius Hosen, SH, MH, mantan Ketua Komisi Kejaksaan Republik Indonesia (Komjak RI), sebagai narasumber utama. Seluruh jajaran pengurus DPN ASANTARA turut hadir mengikuti forum yang berlangsung hangat, penuh semangat, namun tetap serius.
Dalam pemaparannya, Halius Hosen menegaskan bahwa kebesaran sebuah organisasi tidak diukur dari jumlah anggota, kemegahan kantor, maupun luasnya jaringan. Menurutnya, organisasi yang kuat harus dibangun di atas nilai, sistem, integritas, komitmen, dan kebersamaan.
Ia kemudian menguraikan enam fondasi utama yang harus dimiliki setiap organisasi agar mampu berkembang dan bertahan menghadapi berbagai tantangan.
Fondasi pertama adalah komitmen, yakni kesediaan setiap anggota memberikan pikiran, tenaga, waktu, dan kemampuan terbaik demi kemajuan organisasi.
Kedua adalah kepercayaan. Menurut Halius, kepercayaan merupakan modal utama yang lahir dari kejujuran, konsistensi, integritas, serta kesesuaian antara perkataan dan tindakan.
Fondasi ketiga adalah sistem organisasi. Ia mengingatkan bahwa organisasi tidak boleh bergantung pada satu figur semata. Sistem yang kuat akan menjamin organisasi berjalan profesional, transparan, terukur, dan tetap kokoh meski terjadi pergantian kepemimpinan.
Keempat, setiap anggota harus memiliki kebanggaan dan jiwa heroik terhadap organisasi. Rasa memiliki akan mendorong anggota menjaga, membela, serta membesarkan organisasi dengan semangat pengabdian dan pengorbanan.
Kelima adalah kebersamaan dan loyalitas. Halius menilai perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar, namun tidak boleh memecah persatuan. Loyalitas berarti mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Fondasi keenam adalah tagline dan yel-yel organisasi. Menurutnya, keduanya menjadi simbol identitas sekaligus mampu membangkitkan militansi, semangat, serta kebanggaan seluruh anggota. Nilai tersebut selaras dengan tagline ASANTARA, "Profesional – Independen."
Dalam kesempatan itu, Halius Hosen juga menyampaikan tiga filosofi kepemimpinan dalam budaya Minangkabau yang dinilainya tetap relevan hingga saat ini. Filosofi tersebut mengajarkan pentingnya memiliki wawasan luas dan berpandangan jauh ke depan, berlapang dada menghadapi kritik dan perbedaan, serta tetap teguh dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin.
Sementara itu, Ketua Umum DPN ASANTARA, Drs. H. Marlis, MM, C.Med, menyampaikan apresiasi atas berbagai pemikiran strategis yang disampaikan Halius Hosen. Menurutnya, enam fondasi organisasi tersebut harus menjadi pedoman bagi seluruh pengurus dalam membangun ASANTARA.
"ASANTARA tidak boleh hanya besar dalam nama dan ramai dalam kepengurusan, tetapi lemah dalam tindakan. Kita ingin membangun organisasi media yang benar-benar kuat, berwibawa, disegani, serta memberikan manfaat nyata bagi anggota, masyarakat, bangsa, dan negara," tegas Marlis.
CEO ALINIA GROUP itu juga menekankan pentingnya membangun organisasi yang kuat karena sistem, solid karena kebersamaan, serta berwibawa karena integritas anggotanya.
Marlis menambahkan, ASANTARA harus berani memiliki mimpi besar sebagai organisasi media berskala nasional. Menurutnya, lahir dari Ranah Minang bukan berarti organisasi hanya berpikir dalam lingkup daerah, tetapi harus mampu memberikan kontribusi bagi dunia pers Indonesia secara nasional.
Diskusi publik perdana tersebut diharapkan menjadi awal yang kuat bagi DPN ASANTARA dalam membangun organisasi media yang profesional, independen, berintegritas, dan mampu menjadi mitra strategis bagi masyarakat serta bangsa di masa mendatang.
TIM
0 Komentar