Sorong - Komando Armada III menggelar Forum Diskusi Taktik Perwira Koarmada III dengan mengangkat tema “Dinamika Perkembangan Taktik Peperangan Bawah Air Dalam Rangka Menghadapi Ancaman Maritim Kontemporer (Studi Kasus Tenggelamnya Kapal Perang Iran IRIS Dena – Konflik Amerika Serikat dan Israel versus Iran)” di Lobi Mako Koarmada III, Katapop, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Kamis (21/5/2026).
Forum diskusi tersebut dipimpin langsung Panglima Koarmada III Laksamana Muda TNI Dato Rusman SN diikuti seluruh perwira Koarmada III baik secara tatap muka maupun video conference. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai sarana meningkatkan wawasan, kemampuan analisis, serta pemahaman perwira terhadap perkembangan peperangan maritim modern yang terus mengalami perubahan signifikan.
Dalam sambutannya, Pangkoarmada III menegaskan bahwa karakter peperangan maritim modern kini tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan armada permukaan, namun semakin menitikberatkan pada teknologi bawah air, kemampuan stealth, superioritas sensor, penggunaan drone bawah laut, hingga konsep network centric warfare. Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi tantangan sekaligus tuntutan bagi prajurit TNI AL agar mampu beradaptasi menghadapi ancaman maritim kontemporer yang semakin kompleks dan dinamis.
“Peristiwa tenggelamnya kapal perang Iran IRIS Dena memberikan banyak pelajaran penting mengenai efektivitas operasi kapal selam modern, pentingnya superioritas deteksi bawah air, serta kesiapan doktrin anti-submarine warfare (ASW),” ujar Laksda TNI Dato Rusman SN dalam forum tersebut.
Ia juga menekankan bahwa wilayah operasi Koarmada III yang berada di kawasan timur Indonesia memiliki posisi strategis dengan karakteristik perairan luas yang berbatasan langsung dengan samudera dan jalur pelayaran internasional. Kondisi tersebut, menurutnya, memerlukan kesiapsiagaan taktik yang matang, interoperabilitas yang baik, serta dukungan alat utama sistem persenjataan yang optimal.
Selain itu, Pangkoarmada III meminta seluruh perwira untuk terus meningkatkan profesionalisme, khususnya dalam kemampuan deteksi bawah air, penginderaan sonar, peperangan elektronika, dan analisis intelijen maritim. Seorang perwira, lanjutnya, juga harus mampu mengambil keputusan taktis secara cepat, tepat, dan terukur di tengah ketidakpastian pertempuran modern.
Melalui forum diskusi ini, Koarmada III berharap dapat melahirkan pemikiran-pemikiran konstruktif dan inovatif sebagai bahan masukan bagi pimpinan TNI AL dalam menyempurnakan strategi dan taktik operasi laut, khususnya di bidang peperangan bawah air, guna mendukung kesiapan operasional dalam menjaga kedaulatan maritim Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(Tim Dispen Koarmada III/Red)

0 Komentar