BREAKING NEWS

10/recent/ticker-posts

Right Button

test banner SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI MEDIAONLINE "SENTRAL ONE"

Inovasi SAGU dari Poltekkes Sorong Jadi Harapan Untuk Edukasi Gizi Tekan Stunting di Sayosa

Sayosa, Kabupaten Sorong (07/04/26) - Upaya percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Sorong kembali mendapat dorongan melalui inovasi berbasis kearifan lokal yang digagas oleh Poltekkes Kemenkes Sorong Jurusan Keperawatan. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan pada 6 April 2026 di Kampung Sayosa, Distrik Sayosa, tim dosen dan mahasiswa menghadirkan pendekatan edukatif yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, khususnya keluarga Suku Moi.

Kegiatan ini menjadi bagian nyata dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, dengan fokus pada pengabdian masyarakat yang berbasis hasil riset. Mengangkat tema pemberdayaan keluarga melalui model SAGU-MOI, program ini menempatkan pangan lokal sebagai kunci utama dalam pencegahan stunting pada anak balita.

SAGU yang merupakan akronim dari “Sayang Anak Gizi Utama” diperkenalkan bukan sekadar sebagai bahan makanan tradisional, tetapi sebagai simbol pentingnya pemenuhan gizi seimbang bagi anak sejak dini. Inovasi ini berangkat dari hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa wilayah Sayosa masih menghadapi tantangan stunting, sehingga diperlukan pendekatan yang relevan dengan budaya dan sumber daya setempat.

Tim pengabdian yang terdiri dari dosen dan mahasiswa tidak hanya memberikan penyuluhan, tetapi juga membangun interaksi aktif dengan masyarakat. Antusiasme terlihat dari kehadiran sekitar 40 ibu yang memiliki balita, melampaui target awal. Hal ini mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi anak.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan edukasi tentang stunting, penyebab, serta cara pencegahannya melalui pemanfaatan bahan pangan lokal. Tidak berhenti pada teori, tim juga mengadakan demonstrasi langsung pembuatan bubur sagu bergizi. Menu ini dirancang sederhana, mudah dibuat, dan menggunakan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar seperti sagu, sayuran lokal, serta sumber protein seperti telur, ikan, atau olahan khas daerah.

Bubur sagu yang diolah memiliki kandungan gizi seimbang, menggabungkan karbohidrat, vitamin, dan protein dalam satu sajian. Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi solusi praktis bagi keluarga dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak tanpa ketergantungan pada bahan pangan mahal.

Kegiatan ini juga melibatkan berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan di Puskesmas Sayosa hingga tokoh masyarakat dan tokoh agama. Kolaborasi ini menjadi kekuatan penting dalam membangun kepercayaan serta memastikan pesan yang disampaikan dapat diterima dan diterapkan oleh masyarakat secara berkelanjutan.

Sebagai bentuk dukungan nyata, peserta juga menerima bantuan bahan makanan bergizi yang dapat langsung dimanfaatkan di rumah. Hal ini sekaligus menjadi stimulus agar praktik pemberian makanan sehat dapat terus dilakukan setelah kegiatan berakhir.

Melalui program ini, Poltekkes Kemenkes Sorong menunjukkan bahwa penanganan stunting tidak selalu harus bergantung pada intervensi modern, tetapi dapat dimulai dari potensi lokal yang dioptimalkan. Pendekatan berbasis budaya seperti SAGU-MOI diharapkan mampu menjadi model yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di wilayah lain dengan kondisi serupa.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya sinergi antara dunia pendidikan, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam menghadapi persoalan kesehatan yang kompleks. Dengan langkah kecil namun konsisten, harapan untuk melahirkan generasi bebas stunting di Kabupaten Sorong semakin terbuka lebar.

(Tim/Red)

Posting Komentar

0 Komentar